Game Prime Surabaya 2016 Katalisator Perkembangan Industri Game Tanah Air
Techinasia — 26 Oct 2016 18:50

Semenjak menjadi event besar yang rutin diselenggarakan mulai tahun 2014 kemarin, Game Developers Gathering alias GDG telah menjadi barometer yang dapat digunakan untuk melihat sejauh mana perkembangan komunitas dan pelaku industri game tanah air. Berawal dari sekadar acara kumpul-kumpul tanpa nama yang dilakukan pelaku industri game di Jakarta, GDG pada tahun 2015 lalu berkembang menjadi acara yang menyasar sejumlah kota penting di pulau Jawa seperti, Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung.

Sadar dengan perkembangannya yang semakin besar dari tahun ke tahun, kali ini pihak yang berada di belakang penyelenggaraan acara GDG membuat transformasi penting dengan mengubah nama acaranya menjadi Game Prime. Perubahan nama ditujukan agar acara ini bisa menjadi entitas yang dinamis bagi dua sisi industri video game, yaitu bisnis dan development.

GDG 2015 Yogyakarta | Photo 2

Dokumentasi GDG Yogyakarta 2015

Dengan nama barunya, Game Prime Surabaya tahun 2016 meneruskan kembali agenda acara tahun sebelumnya di kota Pahlawan. Pendekatan yang diusung kali ini lebih dikhususkan bagi komunitas dan teknis pengembangan video game.

Game Prime Surabaya 2016 menjadi rangkaian pertama dari gelaran Game Prime yang selanjutnya akan diselenggarakan di Jakarta dengan nama Bekraf Game Prime 2016. Acara yang akan diselenggarakan di gedung Balai Kartini pada tanggal 29-30 November 2016 ini lebih dipusatkan untuk kegiatan bisnis (B2B) antara para penerbit game, pelaku industri, dan juga pihak pemerintahan.

Dipadati lebih dari 800 pengunjung dari beberapa kota

Game Prime | Photo 2

Ketika pintu gedung Pascasarjana Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dibuka pada hari Sabtu tanggal 22 Oktober 2016, ratusan pengunjung yang rata-rata terdiri atas pelajar dan mahasiswa langsung membanjiri pintu masuk Game Prime Surabaya.

Lebih dari 800 orang peserta hadir memadati aula utama gedung, sehingga acara hasil kerja sama antara Asosiasi Game Indonesia, Duniaku Network, Bekraf, Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dan didukung Kemkominfo serta Kementrian Perindustrian ini bisa dibilang tak kekurangan dari segi pengunjung.

Game Prime | Photo 3

Mengambil tema Reality Check: Are We in The Right Direction, panitia Game Prime Surabaya mengundang para pelaku industri game tanah air untuk membuka wawasan peserta acara tentang arah pengembangan game yang faktual.

“Tema Reality Check: Are We On The Right Direction diangkat untuk membuat kita paham siapa sajakah pemain industri game tanah air, sudah di manakah posisi mereka, sedang ke mana dan apa yang bisa kita lakukan untuk bersaing dengan mereka di industri,” ungkap Robbi Baskoro, General Coordinator dari Game Prime 2016 saat ditemui di ruang pers.

“Pengambilan tema ini dirasa perlu agar semua orang bisa melihat industri game tanah air secara objektif, sehingga tidak selalu dibuai dengan kisah sukses pelakunya saja,” tambahnya

Membuka wawasan para peminat industri game

Game Prime | Photo 4

Auditorium gedung Pascasarjana Politeknik Elektronika Negeri Surabaya menjadi tempat sejumlah veteran industri game tanah air menyampaikan materi terpilih. Proses menyerap ilmu dan berbagi pengalaman penting menjadi benang merah di beberapa topik yang dibahas pihak pemateri Game Prime Surabaya, mulai dari pemahaman tentang platform, edukasi soal pasar, komunitas developer  game regional, hingga topik seputar gender perempuan dalam industri game dikupas di sini.

Topik pertama adalah segmen tanya jawab seputar industri board game Indonesia bersama Adhicipta Raharja Wirawan (desainer dari Waroong Wars) dan Andre Dubari (Manikmaya Games). Dua individu ini menyuarakan nilai positif board game sebagai medium bermain secara berkelompok. Di atas panggung, keduanya juga memberikan pandangan menarik soal board game sebagai media belajar desainer game untuk membuat aturan baku sebuah game.

Game Prime | Photo 5

Acara kemudian berlanjut dengan pengenalan komunitas developer game yang dihadiri perwakilan dari beberapa kota di Indonesia, seperti Frida Dwi (Gamelan, Yogyakarta), Orlando Nandito (Gamedev Bali), Dedi (GDM, Malang) dan Adam Ardisasmita (GDB, Bandung).

Di atas panggung, masing-masing komunitas merumuskan permasalahan yang dihadapi di kota masing-masing dan bagaimana cara mereka menghadapinya. Dari kesimpulan pembicaraan mereka, pada intinya keberadaan komunitas merupakan sarana penting bagi yang ingin merintis karier di industri game.

Dengan semangat kebersamaan untuk belajar dan berkarya, sebuah kolaborasi bisa saja terbentuk sehingga tak harus diperlukan sebuah tim, alat kerja mahal, dan kantor permanen untuk menghasilkan sebuah game.

Steam, srikandi, cara survive di industri game, dan pasar game edukasi yang potensial

Game Prime | Photo 4

Topik di Game Prime Surabaya berlanjut dengan pembahasan mengenai pasar game edukasi yang dibawakan oleh Adam Ardisasmita dari ArsaKids. Pria yang telah memulai kariernya di industri game sejak bangku kuliah ini memberikan insight menarik soal rumitnya membuat game edukasi, bagaimana pengaruh psikologi perkembangan anak terhadap game, dan peran game edukasi untuk masa depan kecerdasan generasi bangsa.

Sesi selanjutnya diteruskan oleh bagaimana upaya developer agar bisa bertahan di Industri game mobile. Segmen yang dihadiri oleh Anton Soeharyo (Touchten), Michael Sinulingga (Niji Games), Steve Lie (Game5Mobile), dan Eldwin Viriya (Own Games) ini lebih kepada memberikan tips monetisasi dan memilih market yang tepat, juga sedikit gambaran mengenai efek bila sebuah game dipajang di halaman depan Google Play dan App Store.

Game Prime | Photo 6

Platform Steam yang selama ini menjadi rujukan para gamer PC juga menjadi topik menarik yang dibahas dalam Game Prime Surabaya 2016. Lewat pembahasan Steam 101 dengan narasumber Cipto Adiguno (Ekuator Games, Celestian Tales Old North), Rachmad Imron (Digital Happiness, DreadOut), dan Kris Antoni (Toge Productions, Infectonator: Survivor), pengunjung mendapatkan ilmu tentang cara memperkenalkan  game mereka di Steam Greenlight, alasan kenapa lebih memilih PC daripada mobile, dan lain-lain.

Di luar beberapa topik yang dibahas tadi, Game Prime Surabaya 2016 juga menghadirkan sesi talkshow soal Girls in Game Development, lalu ada juga pembahasan soal mendirikan studio game bersama Arief Widhiyasa dari Agate, dan terakhir topik pentingnya kolaborasi antara studio game bersama Jonathan Manuel Gunawan (Toge Productions), Eka Pramudita (Mojiken), dan Dennis Adriansyah (Amagine Interactive) dari Koalisi Kemakmuran.

Berbagi ilmu dari hulu ke hilir sambil bermain

Game Prime | Photo 7

Tujuan khusus lainnya dari penyelenggaraan acara ini adalah mendorong munculnya bibit-bibit baru dalam belantika pengembangan industri game Indonesia. Kegiatan workshop yang berjalan hampir sehari penuh seperti yang diselenggarakan pada GDG Surabaya 2015 kembali diadakan tahun ini.

Panitia Game Prime 2016 telah mempersiapkan beberapa materi menarik, seperti workshop pembuatan musik game menggunakan Fruity Loops, menggambar aset game 2D lewat Photoshop, manajemen proyek Studio dengan pembicara dari Gameloft, dan workshop menggunakan Construct 2 untuk keperluan pembuat game.

Walau tidak ada workshop Unity untuk kegiatan tahun ini, setidaknya materi yang dipersiapkan panitia tadi sudah cukup untuk menarik animo pengunjung yang ingin belajar membuat game sendiri.

Game Prime | Photo 8

Hal lain yang cukup membedakan penyelenggaraan Game Prime Surabaya 2016 dengan GDG Surabaya tahun lalu adalah jumlah pameran game dari developer lokal. Berbeda dibandingkan sebelumnya, tahun ini panitia sengaja tidak memberikan tempat pameran yang banyak seperti dulu. Pembatasan jumlah peserta pameran game merupakan hasil dari perubahan fokus acara yang lebih diarahkan kepada pengenalan komunitas, bukan lagi pameran developer secara individual

Meskipun kurang dari segi jumlah, namun bukan berarti tidak ada kemeriahan acara bermain game di Game Prime Surabaya 2016. Para pengunjung bebas bermain mini game di booth Gameloft untuk mendapatkan doorprize yang disediakan. Mereka juga bisa melihat, mencoba, dan bertanya-tanya soal karya game dari masing-masing komunitas developer game dari kota Malang, Surabaya, Bali, dan lainnya.

Selain video game, Game Prime 2016 juga memiliki sebuah tempat khusus untuk bermain board game buatan lokal. Lokasi yang menurut saya paling riuh (karena letaknya dekat dengan kafetaria) ini menjadi spot favorit saya untuk mengamati ekspresi pengunjung yang antusias memainkan beberapa board game baru dan belum pernah dicoba sebelumnya.

Game Prime | Photo 9

Secara keseluruhan, Game Prime 2016 Surabaya merupakan acara yang sangat istimewa bagi mereka yang berminat untuk masuk ke industri game, baik itu pelajar atau pelaku baru yang hendak menyeriusi bidang ini sebagai pekerjaan mereka.

Acara yang tujuannya untuk menjembatani pelaku industri game dengan kalangan akademisi ini ke depannya diharapkan menjadi agenda rutin agar arah pengembangan pelaku industri berikutnya bisa lebih baik lagi dari apa yang ada sekarang. Hal ini sejalan dengan visi dari tema Reality Check: Are We in The Right Direction, dan semoga pada tema penyelenggaraan selanjutnya, industri game kita memperlihatkan arah yang semakin positif baik itu dari sisi ekosistem dan juga bisnis.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

512
512