6 Hal Penting yang Kamu Perlu Tahu Sebelum Bergabung dengan Startup
Techinasia — 10 Jul 2017 19:00

Saat membaca Tech in Asia Indonesia, kamu mungkin menjadi sangat bersemangat ketika membaca tentang pendanaan besar yang diterima oleh para startup tanah air seperti Tokopedia, GO-JEK, hingga Bhinneka. Apalagi ketika mendengar kalau mereka punya kantor yang keren, serta budaya kerja yang menyenangkan. Wajar kalau kamu kemudian tertarik untuk menjadi karyawan dari sebuah startup.

Namun, seperti semua hal lain yang ada di dunia, bekerja di sebuah startup pun menyimpan kekurangan dan risiko. Ada baiknya kalau kamu mengetahui hal-hal tersebut sebelum menentukan pilihan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu kamu tahu sebelum bergabung dengan sebuah startup.

Karier yang tidak amanGagal | Ilustrasi

Sumber gambar: Pixabay

Dunia startup terkenal dengan bagaimana sebuah perusahaan bisa meraih kesuksesan dalam waktu yang relatif cepat. GO-JEK misalnya, dalam waktu beberapa bulan sejak didirikan pada awal 2015 yang lalu, mereka telah berhasil mempunyai puluhan ribu pengemudi dan hadir di berbagai kota. Namun kamu harus ingat, kalau beberapa startup justru gagal dan menutup layanan dalam waktu yang relatif cepat pula.

Tech in Asia Indonesia beberapa kali menampilkan cerita bagaimana startup harus menghentikan layanan karena berbagai alasan, dan mereka terpaksa memecat karyawan dalam waktu yang cukup mendadak. Para karyawan tersebut pun jadi tidak mempunyai waktu untuk mencari pekerjaan baru.

Hal ini berbeda dengan perusahaan besar yang relatif lebih stabil secara bisnis. Apabila mengalami kegagalan dan harus menutup layanan, perusahaan besar pun biasanya akan memberikan waktu yang cukup bagi para karyawan untuk mencari pekerjaan baru.

Demi menanggulangi hal tersebut, ada baiknya kalau kamu mempelajari terlebih dahulu seberapa menjanjikan bisnis yang dijalankan startup tersebut, bagaimana karakter para pendirinya, dan berapa banyak pengguna yang kini telah menggunakan layanan mereka.

Sisi cerahnya: Walau penuh ketidakpastian, namun startup merupakan salah satu akselerator karier yang sangat baik. Kamu bisa memulai menjadi analis dan berakhir menjadi Chief of Product dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Tidak selalu ada gaji dan tunjangan yang besar

Keran Uang | Screenshot

Kamu mungkin akan langsung menyanggah subjudul di atas dengan menunjukkan beberapa startup yang menjanjikan gaji besar. Ya, hal tersebut memang benar, namun kamu harus ingat kalau hanya startup dengan pendanaan besar saja yang bisa melakukan hal tersebut, dan jumlahnya juga tidak banyak di tanah air. Hal tersebut pun biasanya mereka lakukan hanya untuk posisi tertentu yang dianggap penting.

Secara umum, startup di tanah air beroperasi dengan dana yang minim, karena itu para founder cenderung berhemat dalam mengeluarkan uang. Jangan heran kalau banyak karyawan startup yang mempunyai gaji hanya sesuai Upah Minimum Regional (UMR).

Kebanyakan startup pun hanya memberikan gaji dan Tunjangan Hari Raya (THR), tanpa tambahan tunjangan lainnya. Hal ini berbeda dengan perusahaan besar yang bisa memberikan bonus, tunjangan perumahan, tunjangan kesehatan, hingga tunjangan transportasi.

Sisi cerahnya: Peperangan sumber daya manusia adalah sesuatu yang sedang terjadi di antara startup tanah air, dan mereka bersedia membayar dengan angka tinggi untuk merekrut karyawan. Selain itu, karyawan yang bersinar juga dapat ditawarkan saham, yang akan mendatangkan keuntungan besar ketika perusahaan melakukan merger, diakuisisi perusahaan lain, atau masuk ke bursa saham.

Arah perusahaan yang bisa berubah-ubah

Fail Target | Illustration

Perusahaan besar biasanya telah mempunyai pedoman baku tentang jenis produk ataupun layanan yang mereka buat, target pengguna yang mereka incar, hingga budaya seperti apa yang ingin mereka terapkan. Hal ini jauh berbeda dengan para startup di tanah air yang mayoritas masih berusia kurang dari lima tahun. Para founder biasanya masih meraba-raba tentang arah perusahaan yang ingin mereka jalankan.

Karena itu, jangan heran apabila ada seorang founder yang awalnya ingin menjual produk ke konsumen individu, namun karena mengalami kegagalan langsung memutuskan untuk beralih mengincar konsumen yang berbentuk perusahaan. Hal ini otomatis berdampak pada perubahan proses kerja yang tengah kamu jalankan.

read also

BACA JUGA

Mengapa karyawan terbaik justru memutuskan untuk mengundurkan diri?

Sisi cerahnya: Startup memang seperti itu, semuanya berjalan dengan cepat. Untuk kamu yang suka tantangan, kamu tidak akan pernah bosan. Akan selalu ada hal baru yang bisa kamu pelajari, atau masalah baru yang belum pernah kamu temui sebelumnya.

Deskripsi pekerjaan yang tidak jelas

Onemonth - Belajar Keterampilan Bisnis dan Pemrograman dalam Satu Bulan | Featured 2

Di perusahaan besar, setiap karyawan biasanya akan mendapat deskripsi pekerjaan tertentu yang tidak akan berubah, kecuali ketika mereka berganti posisi. Seorang developer tidak perlu melakukan tugas pemasaran, dan seorang karyawan keuangan tidak perlu bertemu dengan klien untuk mengenalkan produk.

Hal ini jauh berbeda di dunia startup. Karena jumlah karyawan yang relatif sedikit, kamu akan dituntut untuk bisa mengerjakan berbagai jenis pekerjaan. Meski hal tersebut tidak tertulis dalam deskripsi pekerjaan kamu ketika bergabung, namun bisa saja kamu kemudian diminta untuk mengerjakan tugas karyawan lain.

Beberapa startup bahkan bisa memberikan kamu jabatan dengan nama yang tidak jelas yang tidak pernah digunakan di perusahaan besar mana pun. Tidak ada masalah dengan hal tersebut, selama kamu bisa mengonfirmasi kepada pimpinan kamu tentang apa yang harus kamu lakukan, dan kamu pun mendapat kompensasi gaji yang sesuai.

Sisi cerahnya: Mengerjakan banyak hal memang dapat membuat frustrasi, namun di saat yang bersamaan bisa menawarkan kamu berbagai tanggung jawab yang tidak akan kamu dapatkan di perusahaan besar. Kamu bisa mengetahui apa yang sebenarnya kamu sukai, dan kamu pun bisa memandang bisnis dengan cara yang lebih luas.

Kurangnya sarana untuk belajarSarana Belajar | Ilustrasi

Sumber gambar: Pexels

Setiap karyawan pasti membutuhkan bantuan untuk mengembangkan kemampuan teknis dan emosi mereka. Itulah mengapa para perusahaan besar memberikan fasilitas pelatihan baik di dalam ataupun luar perusahaan, hingga membiayai karyawan mereka untuk melanjutkan pendidikan formal.

Hal ini pun tidak akan kamu dapatkan di dunia startup. Mayoritas founder biasanya tidak mempunyai dana yang cukup untuk membiayai kamu untuk mengikuti pelatihan. Karyawan senior di startup tersebut pun sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, dan tidak punya waktu untuk menjadi mentor bagi kamu. Terkadang masalah yang dihadapi sebuah startup pun merupakan masalah baru yang tidak ada satu buku atau pelatihan pun yang mampu memecahkannya.

Solusinya, kamu harus pintar-pintar menyediakan waktu untuk mempelajari hal baru secara autodidak.

Sisi cerahnya: Belajar memecahkan masalah baru secara autodidak akan melatih kemampuan kamu dalam menyelesaikan masalah dan berpikir. Secara jangka panjang, ini lebih berharga daripada pelatihan tradisional melalu seminar atau workshop.

Jam kerja yang bisa lebih panjang

Jam Kerja | Waktu

Karena sistem kerja yang terkontrol, setiap karyawan di perusahaan besar harus sudah sampai di lokasi kerja dan pulang di jam-jam tertentu. Namun di luar jam kerja tersebut, mereka cenderung bisa langsung melupakan hal yang berbau pekerjaan, dan fokus ke kehidupan pribadi mereka.

Hal ini jauh berbeda dengan kehidupan di dunia startup. Kamu mungkin akan mendapat waktu kerja yang lebih fleksibel, dengan boleh hadir dan meninggalkan kantor kapan pun kamu mau. Namun kamu juga harus siap untuk dihubungi terkait pekerjaan di luar jam kantor, atau bahkan ketika kamu tengah berlibur. Bila dihitung, terkadang waktu yang kamu gunakan untuk bekerja di startup justru lebih panjang dibanding di perusahaan besar.

Sisi cerahnya: Tekanan untuk bekerja melebihi jam kerja normal tentu tidak akan terjadi setiap hari. Bila kamu bisa mengatur pekerjaan dengan baik, maka fleksibilitas waktu kerja ini bisa membuat kamu mempunyai kehidupan profesional dan pribadi yang seimbang.

Dari beberapa poin di atas, kamu bisa mengambil kesimpulan kalau dunia startup ternyata menyimpan cukup banyak tantangan yang jauh berbeda dengan dunia kerja biasa. Namun bila kamu bisa mengatasi tantangan-tantangan tersebut dengan baik, akan ada banyak manfaat yang bisa kamu rasakan, yang tidak akan kamu dapatkan di tempat lain.

Kini pilihan ada di tangan kamu, jalan mana yang akan kamu pilih?

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

512
512