4 Pertanda Orang yang Tidak Layak Menjadi Pemimpin
Techinasia — 12 Oct 2017 09:49

Pernahkah kamu melihat seorang kolega yang kamu rasa tidak punya kemampuan memimpin, tiba-tiba diangkat menjadi manajer atau team leader? Mungkin dia diangkat menjadi manajer sales karena selama bekerja, hasil penjualan yang ia dapatkan paling besar di antara karyawan sales lainnya. Atau mungkin ia diangkat menjadi manajer hanya karena ia sudah memiliki pengalaman kerja selama bertahun-tahun.

Praktik seperti ini banyak terjadi di perusahaan, padahal sebetulnya orang yang ditunjuk belum tentu tepat. Memiliki performa baik di sebuah pekerjaan hanya berarti bahwa seorang karyawan mampu melaksanakan perintah dengan baik. Ia mampu menjalankan instruksi, tapi apakah itu juga berarti ia mampu memimpin? Belum tentu.

Ciri-ciri orang yang tidak layak memimpin

Business Leader | Photo 1

Ketika seseorang menjadi pemimpin sebuah tim, tugas yang harus ia lakukan akan berubah. Meskipun ia masih menghabiskan sebagian waktu untuk mengerjakan tugas lapangan seperti bawahannya, porsinya pasti akan berkurang. Sebagai contoh, seorang pemimpin tim desain, atau seorang Art Director, bisa jadi malah tidak menggambar satu desain pun.

Kemampuan memimpin tidak akan bisa dilihat hanya dari angka-angka. Banyak unsur kualitatif yang perlu diperhatikan juga, seperti keberanian, ambisi, dan kemauan untuk terus mencoba hal baru. Menurut Glenn Llopis, pakar kewirausahaan asal Amerika, seseorang tidak layak menjadi pemimpin bila ia:

  • Tidak memiliki pengaruh atau kemampuan di luar job description yang dapat mendorong pertumbuhan maksimal, baik pertumbuhan organisasi atau pertumbuhan pendapatan
  • Tidak berpikiran terbuka, sehingga tidak mampu menerima perbedaan pandangan, dan tidak mampu mencari titik temu di antara orang-orang yang punya pikiran berbeda
  • Cepat puas, sehingga tidak memanfaatkan hubungan kolaboratif untuk mendatangkan keuntungan bagi perusahaan sendiri
  • Tidak bijaksana, artinya tidak mampu mengubah pengetahuan mereka menjadi strategi yang bisa mendatangkan pertumbuhan sustainable
Pentingnya “mental inovasi”

Percuma memiliki pengalaman dan pengetahuan selama puluhan tahun kalau ternyata pengetahuan itu sudah ketinggalan zaman dan tidak bisa diterapkan pada situasi saat ini. Padahal dunia bisnis terus tumbuh dan berevolusi. Para pemimpin harus bisa mengidentifikasi masalah dengan cepat dan memanfaatkan segala kesempatan untuk mendatangkan pertumbuhan berarti.

Menurut Llopis, hal ini bisa dicapai bila seorang pemimpin memiliki mindset yang disebut sebagai “mental inovasi” (innovation mentality). Mental inovasi artinya dorongan untuk terus berevolusi dan terus berada di depan dalam dunia kerja dan pasar yang terus berubah. Mental inovasi artinya kita bekerja hari ini dengan memikirkan apa yang akan terjadi besok.

Glenn Llopis | Photo 1

Glenn Llopis

Ada enam unsur penting dalam mental inovasi, yaitu:

  • Melihat lebih jauh dari peluang yang jelas terlihat, supaya dapat menciptakan sesuatu yang unik
  • Mengidentifikasi dan mengejar ketertinggalan performa, untuk bisa tetap relevan
  • Menghindari rasa cepat puas dan menghindari munculnya ketegangan yang tak perlu, agar terus makmur di era ekonomi berbasis pengetahuan
  • Memaksimalkan potensi semua orang di tempat kerja
  • Beradaptasi terhadap perubahan demografis dan kebutuhan mereka, untuk menciptakan pertumbuhan yang sustainable
  • Mencari titik temu dan kesamaan di antara orang-orang yang punya pikiran berbeda

Unsur-unsur kepemimpinan dalam mental inovasi bukanlah hal yang dapat diukur secara kuantitatif, dan jelas tidak akan muncul dalam laporan kinerja tahunan. Tapi sifat-sifat ini sangat penting untuk mencapai tujuan jangka panjang sebuah perusahaan, yaitu pertumbuhan yang berkesinambungan.

read also

BACA JUGA

Jangan sampai kamu tertukar antara goal dan objective

Tanpa visi untuk terus berinovasi, sebuah perusahaan besar pun bisa kolaps sewaktu-waktu karena munculnya gangguan (disruption) inovasi dari pihak lain. Seperti kata-kata yang diucapkan oleh CEO Nokia, Stephen Elop, ketika menjual perusahaannya pada Microsoft. “Kami tidak melakukan sesuatu yang salah, tapi kami kalah.”

Apakah ada pemimpin atau pemegang jabatan di perusahaanmu yang sebenarnya tidak layak memimpin? Atau malah dirimu sendiri yang tidak punya mental inovasi? Jangan sampai salah mempromosikan karyawan, karena pemimpin yang salah dapat membawa perusahaan pada kehancuran.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

512
512