10 Layanan Fintech dengan Pertumbuhan Tercepat di Indonesia Menurut IDC
Techinasia — 12 Oct 2017 12:08

Pada tanggal 5 Oktober 2017 yang lalu, lembaga riset IDC lewat IDC Finansial Insights mengumumkan sepuluh nama layanan fintech di tanah air yang menurut mereka mengalami pertumbuhan sangat cepat saat ini. Untuk menentukan nama-nama tersebut, IDC Financial Insights melakukan pengamatan pada beberapa hal, mulai dari pasar yang dituju, adopsi pengguna, investasi yang didapat, inovasi, pemasaran, hingga peluang mereka untuk bertahan.

Tujuh dari sepuluh layanan fintech tersebut bergerak di bidang pembayaran dan pemberian pinjaman, yang menandakan bahwa kedua bidang tersebut mempunyai masalah besar yang perlu penanganan. Ke depannya, IDC Financial Insights mempercayai akan muncul nama-nama layanan baru dari bisnis identitas digital, cryptocurrency, penasihat keuangan digital (robo advisory), credit scoring, hingga asuransi.

“Kami melihat mulai ada kolaborasi antara bank dan lembaga finansial dengan layanan-layanan fintech di Indonesia. Para layanan fintech tersebut mengembangkan produk, menjalin kemitraan, serta menghadirkan layanan yang nyaman demi mendorong inklusi keuangan,” tutur Michael Araneta, Associate Vice President dari IDC Financial Insights.

Indonesia mempunyai pasar yang menjanjikan bagi para startup fintech untuk tumbuh. Di sini mereka tidak terlalu terkekang dengan regulasi dan bisa berkembang lebih cepat dibanding lembaga keuangan tradisional. Namun kami melihat para startup fintech di Indonesia bukan yang terbaik dalam hal inovasi, apabila kita bandingkan dengan layanan di negara-negara lain.

Handoyo Triyanto, Senior Research Manager IDC Financial Insights

Menurut Araneta, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi layanan fintech tanah air untuk mengembangkan layanan ke negara lain. IDC Financial Insights menyatakan bahwa tahun 2018 akan menjadi saat para startup fintech berkembang secara regional, seperti yang dilakukan Grab di bisnis transportasi.

“Indonesia mempunyai pasar yang menjanjikan bagi para startup fintech untuk tumbuh. Di sini mereka tidak terlalu terkekang dengan regulasi dan bisa berkembang lebih cepat dibanding lembaga keuangan tradisional. Namun kami melihat para startup fintech di Indonesia bukan yang terbaik dalam hal inovasi, apabila kita bandingkan dengan layanan di negara-negara lain,” ujar Senior Research Manager dari IDC Financial Insights Handoyo Triyanto.

read also

BACA JUGA

Berikut ini adalah beberapa contoh kerja sama startup fintech dengan bank

Berikut ini adalah nama-nama layanan fintech yang mengalami pertumbuhan paling cepat di Indonesia menurut IDC.

Amartha

Amartha | Screenshot

Amartha merupakan layanan P2P lending yang menerapkan sistem yang mereka namai Tanggung Renteng. Sistemnya mereka hanya akan memberikan pinjaman kepada anggota kelompok warga berjumlah sekitar lima belas hingga dua puluh orang, yang telah mereka bina di berbagai desa. Apabila ada seorang anggota kelompok tersebut yang tidak mengembalikan pinjaman, maka anggota lain harus bertanggung jawab untuk melunasinya.

Ketika berdiri pada tahun 2010 silam, Amartha sebenarnya mengawali bisnis mereka dengan konsep balance sheet lending. Sehingga, uang yang diberikan kepada peminjam berasal dari kantong mereka sendiri, atau dari perusahaan yang bekerja sama dengan mereka. Baru pada tahun 2016 yang lalu mereka mengubah model bisnis mereka menjadi P2P lending, dan memungkinkan setiap individu untuk menjadi investor di platform mereka.

Pada tanggal 7 Maret 2017, Amartha mengumumkan pendanaan Seri A yang dipimpin oleh Mandiri Capital Indonesia (MCI). Turut serta dalam investasi tersebut Lynx Asia Partners, serta investor mereka sebelumnya, yaitu Beenext dan Midplaza Holding.

Bareksa

Bareksa | Screenshot

Bareksa adalah marketplace yang memungkinkan kamu untuk melakukan jual beli produk finansial reksa dana secara online. Selain itu, startup yang didirikan pada tanggal 17 Februari 2013 ini juga menyediakan informasi seputar investasi, saham, dan obligasi.

Startup ini dibentuk oleh Karaniya Dharmasaputra, yang sebelumnya sempat mendirikan raksasa portal berita Indonesia VIVA, dan merupakan mantan Managing Editor di Majalah Tempo.

CekAja

CekAja | Screenshot

CekAja adalah situs yang berisi informasi dan perbandingan layanan finansial seperti kartu kredit, asuransi, dan berbagai bentuk investasi. Selain itu, mereka juga menyajikan perbandingan paket TV kabel dan internet berlangganan. Startup ini merupakan bagian dari C88, sebuah perusahaan teknologi asal Malaysia yang juga bergerak di bidang finansial.

Doku

Doku | Featured

DOKU merupakan salah satu sistem pembayaran online yang paling pertama muncul di Indonesia, sejak tahun 2007. Solusi sistem pembayaran online yang disediakan Doku sangat beragam, mulai dari VISA, MasterCard, Paypal, BNI Debit online, hingga E-Pay Bri, dan lainnya.

Doku memiliki tiga produk utama yaitu DOKU Wallet sebagai layanan uang digital, DOKU Enterprise untuk sistem pembayaran berskala besar, dan DOKU My Shopping Cart yang ditujukan untuk situs-situs e-commerce atau bisnis kecil menengah.

Finansialku

Finansialku | Screenshot

Finansialku adalah portal dan aplikasi perencana keuangan yang bisa memberi kamu berbagai tip tentang cara mengelola keuangan yang baik. Mereka bisa memberi masukan tentang cara mengatur investasi, reksa dana, saham, asuransi, hingga persiapan pensiun, dengan baik.

GO-PAY

GO-PAY Transfer | Screenshot

Untuk mendukung layanan-layanan yang mereka miliki, aplikasi on demand GO-JEK seperti sadar bahwa mereka butuh sebuah layanan pembayaran nontunai yang baik. Berbeda dengan aplikasi chat BBM yang menggandeng pihak lain, mereka lebih memilih untuk membuat layanan tersebut sendiri.

Sekitar setahun yang lalu, mereka mengubah nama dan bentuk dari layanan pembayaran nontunai mereka sebelumnya, GO-JEK Credit, menjadi GO-PAY. Mereka pun telah mengakuisisi sebuah perusahaan pemilik lisensi e-money bernama PonselPay demi mendukung operasional GO-PAY.

Dan hasilnya, saat ini mayoritas pengguna GO-JEK telah menggunakan layanan pembayaran tersebut. GO-PAY pun tidak hanya bisa digunakan untuk membayar transaksi di dalam aplikasi GO-JEK, namun juga telah menyediakan fitur transfer saldo dan penarikan tunai seperti layanan e-money lainnya. Dalam waktu dekat, GO-PAY pun bisa kamu gunakan untuk bertransaksi di berbagai merchant.

Midtrans

Midtrans | Screenshot

Midtrans merupakan sistem pembayaran online yang muncul sejak tahun 2012. Perusahaan ini merupakan usaha gabungan antara Veritrans Jepang, NetPrice, dan MidPlaza Group. Sebelumnya, mereka menggunakan nama Veritrans.

Dengan layanan yang mereka sediakan, kamu bisa melakukan pembayaran dengan kartu seperti VISA dan MasterCard, Internet Banking, E-Wallet, hingga pembayaran konvensional melalui Indomaret.

Modalku

Modalku Apps Baru | Screenshot

Modalku merupakan platform peer-to-peer (P2P) lending yang memungkinkan para pemilik usaha kecil dan menengah (UKM) untuk mengajukan pinjaman sebesar Rp50 juta hingga Rp500 juta selama tiga sampai dua belas bulan. Apabila disetujui, pengajuan tersebut akan ditampilkan di situs Modalku, agar bisa dilihat oleh para calon pemberi pinjaman.

Apabila jumlah pinjaman yang diharapkan pemilik UKM berhasil terpenuhi dalam rentang waktu yang ditetapkan, Modalku akan segera mencairkan dana tersebut. Dari setiap kesepakatan, Modalku menarik komisi sebesar 3 hingga 4 persen dari pemberi pinjaman, dan 3 persen dari peminjam.

Diluncurkan pada bulan Januari 2016, Modalku telah mendapat pendanaan Seri A sebesar Rp100 miliar pada tanggal 4 Agustus 2016. Pendanaan tersebut dipimpin oleh Sequoia India, serta diikuti oleh investor mereka sebelumnya, Alpha JWC Ventures.

TCash

TCash

TCash adalah layanan pembayaran dan dompet digital yang dibuat oleh perusahaan telekomunikasi Telkomsel. Untuk melakukan transaksi dengan TCash, kamu bisa melakukannya dengan beberapa metode, mulai dari mendekatkan perangkat NFC, hingga melakukan scan QR Code.

UangTeman

UangTeman Aplikasi iOS | Screenshot

UangTeman adalah situs yang menghadirkan layanan pinjaman tanpa agunan mulai dari Rp1 juta hingga Rp3 juta dengan maksimal waktu pengembalian selama tiga puluh hari. Saat ini, layanan tersebut telah hadir melalui platform web, serta aplikasi iOS dan Android. Mereka juga telah hadir di berbagai kota, mulai dari Jabodetabek, Yogyakarta, Solo, Magelang, Klaten, Bandung, Surabaya, Semarang, Bali dan Makassar.

Pada 7 Agustus 2017 yang lalu, startup yang didirikan oleh Aidil Zulkifli ini mendapat pendanaan Seri A sebesar US$12 juta (sekitar Rp160 miliar). Investasi ini dipimpin oleh K2 Venture Capital, Enspire VC, dan Alpha JWC Ventures, serta diikuti oleh tokoh ternama Silicon Valley Tim Draper lewat lembaga investasi Draper Associates.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

512
512