5 Cara Sederhana Cegah Burnout di Tempat Kerja
Techinasia — 17 Oct 2017 09:00

Bekerja keras dalam periode lama dapat membuat energimu terkuras habis. Bayangkan, setiap hari kamu harus memeras otak selama delapan hingga sepuluh jam, mencari ide-ide kreatif untuk menciptakan atau memasarkan suatu produk. Ketika kamu pulang kerja, kepalamu masih penuh dengan pikiran dan strategi tentang pekerjaanmu esok hari.

Saat libur tiba pun kamu belum tentu bisa beristirahat. Mungkin kamu harus membersihkan rumah, belanja kebutuhan sehari-hari, atau mencuci pakaian. Hingga suatu titik kamu mengalami burnout.

Kamu jadi sering sakit kepala, susah tidur, depresi, dan seperti tak punya energi untuk melakukan apa pun. Pikiranmu selalu negatif, kamu mudah marah, juga tidak bisa berkonsentrasi.

Burnout di tempat kerja adalah masalah yang nyata, apalagi bila pekerjaanmu menuntut pemikiran kreatif dan inovasi terus-menerus. Tapi ada beberapa cara sederhana yang bisa kamu gunakan untuk melawan burnout dan menjaga pikiran tetap segar saat bekerja. Berikut ini lima di antaranya.

Meninggalkan meja kerja

Ketika kamu mengalami burnout, banyak sekali pengalih perhatian yang dapat menggodamu. Kamu akan tergoda untuk menonton film, menonton video di YouTube, atau menghabiskan waktu membaca-baca konten di Facebook. Dengan tetap berada di depan komputer, kamu jadi merasa seperti tidak sedang mangkir, padahal sebenarnya produktivitasmu nol besar.

Hindari perilaku seperti ini. Langsung saja tinggalkan meja kerjamu, dan lakukan hal lain untuk mendapatkan suasana baru. Mungkin kamu bisa mencari makan di luar atau berjalan-jalan. Mengganti suasana sebentar akan membuatmu lebih segar ketika kembali ke kantor nantinya.

Mobile Games | Photo 1

Game mobile bisa jadi pilihan hiburan singkat yang seru

Bila tempat kerjamu menawarkan jam kerja yang fleksibel, itu lebih baik lagi. Mungkin kamu bisa meninggalkan kantor selama dua jam untuk mengerjakan hal lain, misalnya olahraga di gym atau mengikuti kelas yoga. Mungkin kamu boleh bekerja remote dari rumah atau kafe selama sehari tiap minggunya. Manfaatkan fleksibilitas ini untuk mencari suasana baru.

Meninjau ulang prestasi

Bila kamu sampai mengalami burnout, kemungkinan itu artinya kamu adalah seorang pekerja keras. Kamu mendorong kemampuan sampai batas maksimal setiap hari, selama berbulan-bulan bahkan mungkin bertahun-tahun. Tapi apakah kerja kerasmu diketahui orang lain?

Luangkan waktumu untuk melihat ke belakang dan mengingat-ingat kembali prestasi apa saja yang sudah kamu raih. Buat catatan tentang proyek-proyek yang pernah kamu tangani, dan bagaimana hasilnya.

Catatan tersebut nantinya bisa kamu tunjukkan kepada atasan saat proses evaluasi supaya kamu mendapat penilaian yang lebih baik, atau kamu gunakan untuk memperbaharui CV. Di samping itu, mengingat-ingat kembali pencapaian selama ini dapat memberi mood positif dan menumbuhkan kembali motivasimu.

Fokus pada konteks pekerjaan

Bila kita hanya menggunakan kata “bekerja”, rutinitas kita bisa terdengar (dan terasa) sangat membosankan. Setiap hari kita bekerja, dan pekerjaan kita tidak ada habisnya. Kita terjebak dalam kehidupan monoton yang tak berujung, seperti hamster yang berlari di atas roda.

Ketika kamu melamar pekerjaan, pasti ada suatu bagian dari pekerjaan tersebut yang kamu minati. Penting bagimu untuk fokus pada kegiatan yang kamu sukai tersebut. Misalnya, kamu melamar sebagai seorang desainer karena suka mendesain, atau melamar menjadi penulis karena suka menulis. Alokasikan waktu untuk mengerjakan bagian yang kamu sukai supaya pekerjaanmu terasa lebih bermakna.

Kamu juga bisa berhenti sejenak untuk merenungkan dampak makro yang telah kamu hasilkan. Apakah pekerjaanmu telah mengubah hidup orang banyak? Apa manfaat yang sudah kamu berikan pada masyarakat? Mengingat kembali konteks pekerjaan akan membuatmu merasa melakukan hal yang bermakna, bukan sekadar rutinitas.

Mengobrol

Kamu tidak bisa lari dari pekerjaan, tapi bukan berarti kamu harus memikirkan pekerjaan terus-menerus. Bila kamu punya waktu luang (baik sebelum, di tengah, atau setelah kerja), manfaatkan waktu itu untuk mengobrol tentang hal-hal di luar pekerjaan.

Luangkan beberapa menit waktu untuk menelepon orang tersayang ketika istirahat siang. Datangi teman kerjamu yang punya hobi sama untuk berdiskusi. Mungkin kemarin kamu menemukan liquid vape aroma baru, atau baru saja mendapatkan hero baru di Mobile Legends. Lupakan pekerjaan, dan biarkan dirimu santai membicarakan hal lain.

Menghadiahi diri sendiriBath | Photo 1

Sumber Gambar: For Eve

Meskipun kamu tidak sedang libur, ada banyak cara untuk menghadiahi diri sendiri atas pencapaian yang berhasil kamu raih di tempat kerja. Tidak perlu hal yang rumit, sekadar membeli es krim di jalan pulang atau mampir ke toko buku untuk window shopping sudah bisa membuat suasana hatimu lebih baik. Hati-hati saja jangan sampai terlalu boros.

read also

BACA JUGA

Bagaimana orang sukses menghabiskan akhir pekan? Simak di sini

Bila kamu punya bak mandi di rumah, kamu juga bisa menghabiskan waktu untuk berendam rileks di air hangat. Sesekali kamu juga bisa tidak langsung pulang, tapi mampir dulu untuk menonton konser atau menonton film. Sesuatu yang kamu nanti-nantikan sepulang kerja bisa menjadi motivasi untuk menyelesaikan pekerjaanmu.

Burnout dapat terjadi pada siapa saja. Jalan terbaik untuk “menyembuhkan” burnout adalah cuti untuk liburan panjang, tapi hal tersebut tidak selalu bisa kita lakukan.

Yang bisa kita lakukan adalah menata diri agar pikiran kita tidak berisi pekerjaan terus-menerus. Lakukan hal-hal sederhana sebagai bahan hiburan, dan jangan lupa mengapresiasi diri sendiri. Niscaya hari-harimu akan lebih berwarna.

Sumber: Forbes

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

512
512