Dari Belajar di YouTube, Cleosent Dirikan Startup hingga Sukses Exit
Techinasia — 11:00

Ikhtisar

  • Menurut Cleosent, ada tiga hal yang harus dilihat oleh para founder startup sebelum mulai menjalankan bisnis: potensi pasar, keyakinan untuk menjadi yang terbaik, dan skema monetisasi yang realistis.
  • Kedisiplinan dan eksekusi yang cepat menjadi kunci bagi Cleosent untuk mengembangkan startup. Ia pun selalu mencari peluang lain yang bisa digali.
  • Menjalin relasi dengan berbagai pihak di bisnis juga sangat penting, karena tak ada yang tahu peluang apa yang akan terbuka dari jalinan tersebut.
  • Cleosent menganggap tantangan akan selalu datang menghampiri para founder startup apa pun. Bila tantangan itu tiba, ia berpesan agar founder tidak langsung berubah jadi pesimis.

Pada Desember 2017 lalu, startup agensi periklanan digital Valuklik telah diakuisisi oleh grup media global Dentsu Aegis Network. Kini mereka telah bergabung dengan salah satu anak perusahaan Dentsu yang bernama iProspect, dan berganti nama menjadi iProspect Valuklik.

Di balik akuisisi ini ada nama Cleosent Randing, sang founder yang telah mengantarkan Valuklik menjadi bagian dari grup media global. Sempat mengenyam pendidikan di Simon Fraser University Kanada, Cleosent kembali ke Indonesia sekitar tahun 2010 untuk membangun bisnis di bidang teknologi.

Awalnya ia sempat mendirikan perusahaan call center bernama NuGlobe, sebelum kemudian mendirikan Valuklik pada akhir 2012. Kini, setelah Valuklik diakuisisi oleh Dentsu, ia pun berniat fokus mengelola startup baru yang bergerak di bidang asuransi. Uniknya, startup baru bernama PasarPolis tersebut sebenarnya telah ia dirikan sejak 2015 silam, saat masih aktif mengelola Valuklik.

Bagaimana sebenarnya pengalaman Cleosent membangun startup dari nol hingga bisa diakuisisi perusahaan besar? Bagaimana ia bisa mendirikan startup baru, di saat ia masih menjalankan startup yang lama? Mari simak cerita beliau berikut ini.

Semua berawal dari YouTube

Ilustrasi: Digital Marketing

Sejak masih di bangku kuliah, Cleosent Randing telah mempunyai minat yang besar di bidang teknologi. Ia menyadari bahwa teknologi mempunyai potensi bisnis yang besar, dan Indonesia dengan jumlah penduduk banyak merupakan pasar yang tepat untuk mengembangkan bisnis teknologi. Hal ini membuat ia yakin untuk langsung kembali ke tanah air setelah menyelesaikan kuliah.

Ia pun memutuskan untuk mempelajari segala hal, termasuk digital marketing, lewat YouTube.

“Saat itu saya sempat berniat untuk membuat produk seperti e-commerce, tetapi belum tahu produk seperti apa yang nantinya bisa menjadi besar. Namun saya sadar bahwa semua perusahaan, termasuk startup, pasti akan membutuhkan digital marketing. Hal itulah yang kemudian mendorong saya untuk mendirikan Valuklik,” jelas Cleosent kepada Tech in Asia Indonesia.

Cleosent tidak mempunyai ilmu atau pengalaman di bidang teknologi. Ia pun memutuskan untuk mempelajari segala hal, termasuk digital marketing, lewat YouTube. Valuklik pun ia dirikan hanya dengan dua atau tiga orang karyawan. Setelah itu, barulah ia coba mendekati beberapa perusahaan besar untuk menggunakan jasa mereka.

Pada saat itu, digital marketing masih merupakan suatu hal yang belum populer. Iklan di media sosial seperti Facebook masih sangat baru, dan semua orang masih berkutat dengan SEO dan SEM. Hal ini pun menjadi tantangan tersendiri bagi Valuklik di masa-masa awalnya.

Penolakan menjadi sesuatu yang biasa. Kami justru heran kalau ada perusahaan yang langsung mau menerima layanan kami.

Cleosent Randing, Founder Valuklik

Namun menurut Cleosent, hal ini pula yang menjadi kekuatan bagi Valuklik. Mereka terus belajar dari kegagalan dan kesalahan, fokus ke produk utama yaitu performance marketing lewat SEO dan SEM, hingga akhirnya bisa menggandeng berbagai perusahaan besar seperti Telkomsel, XL, hingga Mayora Group.

Ide startup seperti apa yang layak untuk terus dijalankan?Valuklik | Tim

Cleosent Randing (berdiri, kelima dari kiri) bersama tim Valuklik

Kegigihan Valuklik terus beroperasi di tengah kegagalan tersebut pun menjadi menarik. Mengapa? Karena dalam beberapa kasus, kegagalan justru menyebabkan para founder startup kemudian menyerah, dan memutuskan untuk mengganti model bisnis atau bahkan menutup secara total layanan mereka.

Menurut Cleosent, ada tiga hal yang harus dilihat oleh para founder startup sebelum mulai menjalankan bisnis:

  • Pasar yang kamu incar harus mempunyai potensi yang besar
  • Kamu harus bisa menjadi yang terbaik di pasar tersebut
  • Kamu mempunyai skema monetisasi yang baik

Apabila startup kamu telah memenuhi tiga kriteria di atas, maka menurut Cleosent tidak ada alasan bagi kamu untuk berhenti memperjuangkan startup tersebut.

“Bayangkan kamu sedang bermain layang-layang. Tentu kamu harus bermain di sebuah lapangan yang besar, dengan angin yang bertiup kencang. Dengan begitu, apabila kamu melakukan kesalahan, maka layang-layang kamu akan tetap bisa terbang tinggi,” ujar Cleosent.

Ia hanya melakukan eksekusi dengan disiplin dan dalam waktu yang cepat.

Cleosent sendiri mengakui bahwa ia merasa beruntung bahwa Valuklik menjalankan bisnis di “lapangan yang besar”. Ia mengaku bahwa dirinya sebenarnya tidak mempunyai kemampuan yang luar biasa baik, namun ia hanya melakukan eksekusi dengan disiplin dan dalam waktu yang cepat.

Tentang perubahan model bisnis (pivot), Cleosent menganggap hal itu bisa saja dilakukan asalkan sang founder tetap mempertahankan visi atau arah dari startup yang mereka dirikan.

Pentingnya menjalin kemitraan dengan perusahaan lainValuklik Dentsu

Cleosent Randing (kiri) bersama para petinggi Dentsu

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh para founder startup menurut Cleosent adalah menjalin kemitraan strategis dengan berbagai perusahaan lain. Hal ini pula yang menurutnya jadi latar belakang pendanaaan pada Valuklik dari East Ventures pada tahun 2014 silam.

Kisah tersebut bermula ketika ia bertemu dengan Willson Cuaca, Managing Partner East Ventures, di Singapura. Saat itu, Cleosent minta dikenalkan dengan para startup portofolio dari East Ventures, yang mungkin membutuhkan jasa digital marketing dari Valuklik. Menurut Willson, hal tersebut bisa dengan mudah ia berikan apabila Valuklik juga ikut menjadi portofolio dari East Ventures.

“Saya pun setuju dengan hal tersebut dan menerima pendanaan. Namun yang terpenting adalah saya akhirnya bisa berhubungan langsung dengan para portofolio dari East Ventures,” jelas Cleosent.

Setiap tahunnya, pendapatan kami tumbuh lebih dari dua kali lipat.

Hal yang sama pun ia rasakan ketika tawaran dari Dentsu datang kepada dirinya. Menurut Cleosent, ia sebenarnya mempunyai beberapa pilihan masa depan untuk Valuklik. Namun ia akhirnya memilih Dentsu karena posisi mereka sebagai pemain besar di dunia.

“Setiap tahunnya, pendapatan kami tumbuh lebih dari dua kali lipat. Namun untuk tahun depan, kami merasa tantangannya semakin berat. Karena itu, untuk bisa tetap tumbuh, kami pun harus bergabung dengan grup yang lebih besar,” tutur Cleosent.

Dengan bergabungnya Valuklik ke dalam Dentsu, Cleosent merasa bahwa mereka akan bisa menghadirkan layanan dan teknologi yang lebih baik kepada para klien, serta memberikan peluang yang lebih besar kepada karyawan mereka untuk mengembangkan diri.

Melanjutkan analogi permainan layang-layang yang disebutkan di atas, Cleosent menyatakan akuisisi ini sebagai proses berpindahnya Valuklik ke “lapangan yang lebih besar”.

Mulai melihat peluang di bisnis asuransi

PasarPolis | Screenshot

Di tahun 2015, meski masih memimpin Valuklik, Cleosent telah mulai melihat potensi di bisnis yang lain, yaitu asuransi. Ia melihat banyak masyarakat yang antipati dengan asuransi karena cara pembeliannya yang kurang efisien, dan biasanya para agen asuransi hanya melayani para pelanggan yang bisa membayar premi tinggi.

“Lalu bagaimana dengan para petani dan masyarakat lain yang hanya bisa membayar premi sebesar Rp10.000 hingga Rp15.000 setiap bulannya?” tanya Cleosent. ” Karena itulah saya kemudian mendirikan PasarPolis.”

PasarPolis merupakan platform yang bisa memudahkan kamu dalam memilih dan membeli asuransi. Bekerja sama dengan berbagai perusahaan asuransi konvensional, layanan tersebut menghadirkan berbagai produk yang bisa memenuhi kebutuhan asuransi masyarakat tanah air dengan premi terjangkau.

Serupa dengan apa yang ia lakukan sebelum mendirikan Valuklik, Cleosent pun coba mencari tahu seberapa besar pasar asuransi di Indonesia, apakah ia bisa menjadi pemimpin pasar di sektor asuransi murah, dan apakah skema monetisasi yang ia rancang bisa berjalan.

PasarPolis kini telah dipercaya oleh BPJS untuk membantu proses pendaftaran pengguna secara online.

Karena menurutnya ketiga hal tersebut bisa terpenuhi, ia pun langsung merealisasikan ide startup tersebut. Namun karena saat itu ia masih fokus ke Valuklik, Cleosent pun mempercayakan operasional PasarPolis kepada beberapa orang yang ia percaya.

Seperti mengikuti apa yang ia lakukan di Valuklik, Cleosent pun cenderung membawa PasarPolis untuk bermitra dengan pihak lain. Sebagai contoh, PasarPolis kini telah dipercaya oleh BPJS untuk membantu proses pendaftaran pengguna secara online, serta bermitra dengan layanan transportasi online GO-JEK.

Menurut data dari GO-JEK, layanan kami kini telah dimanfaatkan oleh 150.000 mitra pengemudi mereka

Cleosent Randing, Founder Valuklik dan PasarPolis

Setelah Valuklik diakuisisi oleh Dentsu, saat ini Cleosent hanya fokus mengelola PasarPolis. Menurutnya, mereka mempunyai sebuah inovasi menarik yang akan mereka luncurkan dalam waktu beberapa bulan ke depan.

Beberapa saran untuk para founder startup tanah air

Menurut Cleosent, para founder startup di tanah air kini beruntung karena banyak investor yang bisa memberikan pendanaan kepada mereka. Oleh karena itu, para founder tersebut seharusnya bisa lebih fokus dan disiplin dalam menjalankan startup yang mereka dirikan.

Selain itu, para founder juga harus sangat teliti dalam memilih mitra dan karyawan. “Pilihlah karyawan yang penuh energi, percaya dengan visi dari perusahaan, gigih alias berjiwa hustler, serta mau belajar,” ujar Cleosent.

read also

BACA JUGA

Tahukah kamu ada founder yang sempat dua kali gagal mendirikan startup namun masih terus mencoba?

Ia pun menyarankan para founder startup untuk menyadari bahwa perjalanan mereka membangun bisnis tentu akan menghadapi banyak tantangan, oleh karena itu mereka harus bersiap. Bila tantangan itu tiba, jangan langsung berubah menjadi pesimis.

“Anggaplah tantangan itu sebagai sebuah tes. Dengan tes yang berat, kita bisa membedakan mana jeruk yang manis dan jeruk yang masam,” ujar Cleosent.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

512
512