Pemerintah & Toyota Ajak Universitas Riset Mobil Listrik
Telsetnews — 5 Jul 2018 22:17

Telset.id, Jakarta – Pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) merangkul Toyota Indonesia dan enam perguruan tinggi negeri melakukan riset dan studi secara komprehensif tentang pentahapan teknologi electrified vehicle alias mobil listrik di dalam negeri.

Langkah ini akan menjadi masukkan bagi pemerintah menerapkan kebijakan pengembangan kendaraan listrik, sehingga target 20 persen untuk produksi kendaraan emisi karbon rendah (low carbon emission vehicle/LCEV) 2025 dapat tercapai.

“Pemerintah saat ini terus berupaya untuk mendorong pemanfaatan teknologi otomotif yang ramah lingkungan melalui program LCEV,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan resmi acara Kickoff Electrified Vehicle Comprehensive Study di Jakarta, Kamis (5/7/2018).

BACA JUGA

Menperin mengatakan sasaran tersebut tidak terlepas dari komitmen Pemerintah Indonesia untuk dapat menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca (CO2) sebesar 29 persen pada 2030. Ini juga menjadi upaya pemerintah menjaga keamanan energi, khususnya di sektor transportasi darat.

Upaya pengembangan kendaraan ramah lingkungan dinilai penting karena selama ini industri otomotif memberikan kontribusi cukup signifikan bagi perekonomian nasional, yang juga menjadi sektor andalan dalam peta jalan (roadmap) program “Making Indonesia 4.0”

“Sebagai salah satu sektor andalan di dalam roadmap Making Indonesia 4.0, industri otomotif nasional diharapkan menjadi basis produksi kendaraan bermotor baik internal combustion engine (ICE) maupun electrified vehicle (EV) untuk pasar domestik maupun ekspor,” paparnya.

Riset bersama ini dijadwalkan akan berangsung selama dua tahun, mulai 2018 hingga 2019. Pembagian tugas riset kepada keenam perguruan tinggi negeri tersebut akan menjadi dua tahap.

Pada tahap pertama, riset akan dilakukan bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI). Selanjutnya riset dilakukan oleh Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Udayana.

Menurut Airlangga keterlibatan perguruan tinggi pada riset ini tidak terlepas dari peran aktif dan partisipasi perguruan tinggi dalam upaya pengembangan kendaraan bermotor listrik beserta komponennya di dalam negeri. Misalnya pembuatan komponen lunak (software) maupun perangkat keras (hardware), seperti baterai, motor listrik, power control unit, hingga sistem charging station.

“Melalui riset dan studi bersama ini, kami juga cari solusi yang meliputi kenyamanan berkendara oleh para pengguna, infrastruktur pengisian energi listrik, rantai pasok dalam negeri, serta adopsi teknologi dan regulasi,” imbuh dia.

Dia juga mengharapkan ada dukungan kebijakan fiskal agar kendaraan listrik dapat dimanfaatkan masyarakat tanpa harus dibebani biaya tambahan yang tinggi.

Adapun kendaraan listrik yang digunakan di dalam riset kali ini adalah jenis Hybrid dan Plug-in Hybrid yang bakal dibandingkan dengan kendaraan konvensional (ICE) yang telah menggunakan teknologi mesin kekinian alias advanced engine.

Poin-poin itu antara lain tentang studi kenyamanan pengguna (user convenience study), studi karakter teknik (technical characteristic study), studi lingkungan keseluruhan (overall environment study), industri, studi dampak sosial (social impact study), serta studi kebijakan dan regulasi (policy and regulation study).

Diharapkan, studi ini bisa mendapatkan perbandingan yang komprehensif antara kendaraan jenis EV dan PHEV dengan jenis ICE.

“Setiap unit kendaraan tersebut akan dilengkapi dengan data Logger untuk pengambilan data konsumsi bahan bakar, kondisi charging, kebutuhan data infra charging, user experience, convinience, dan lain-lain,” jelasnya.

Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono menegaskan mendukung kegiatan riset dan studi bersama yang diinisiasi oleh Kemenperin.

Menurutnya, hal ini sebagai upaya untuk memahami secara lebih menyeluruh aspek-aspek yang dapat memengaruhi pengembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia, terutama mengenai preferensi konsumen.

Selain itu, lanjut Tjahjono, dari sisi industrinya, meliputi rantai pasok serta kebutuhan infrastruktur pendukung.

“Kami memberikan dukungan berbentuk penyediaan alat berupa kendaraan, data logger, charger, dan asistensi lainnya yang dapat dipergunaan oleh para peneliti dari universitas-universitas di Indonesia tersebut,” kata dia. [WS/HBS]

512
512