CEO HelloBeauty Bicara tentang Model Usaha hingga Masa Depan Bisnis Kecantikan
Techinasia — 9 Jul 2018 14:00

Sebagai satu di antara sekian startup yang menekuni bisnis platform  marketplace kecantikan di tanah air, HelloBeauty bisa dibilang merupakan salah satu yang beruntung karena mengalami perkembangan signifikan di tahun keduanya.

Dengan jumlah pelanggan berbayar mencapai 500 orang dari 2.700 Beauty Artist (sebutan untuk Make Up Artist di platform HelloBeauty) di platform miliknya, HelloBeauty telah menarik perhatian Nest Corp, sebuah perusahaan modal ventura (VC) asal Indonesia. Nest Corp kemudian memberikan pendanaan tahap awal (seed funding) pada Mei 2018 silam.

Dua bulan setelah pendanaan berselang, saya sempat berbincang dengan CEO sekaligus Founder HelloBeauty Dennish Tjandra. Ia berbicara seputar perkembangan, peluang, dan beberapa pengalaman lain yang bisa ia bagikan terkait startup yang didirikannya.

Apa kabar? Bisa gambarkan seperti apa rutinitas harian seorang Dennish Tjandra saat ini?

Hello Risky, kabar baik. Kesibukannya saat ini lebih banyak meeting dengan berbagai pihak terkait kerja sama untuk pengembangan HelloBeauty. Gambaran keseharian saya saat ini:

  • Bangun jam 6 pagi, ngobrol dengan istri dan bayi di perut istri (istri saat ini lagi hamil tujuh bulan).
  • Buka handphone, baca berita, cek email pribadi dan HelloBeauty. Menelepon Co-founder saya (karena dia di Bali), jadi komunikasi tetap berjalan baik.
  • Koordinasi pekerjaan dengan team di grup, perihal daily objectives setiap anggota tim itu apa aja hari ini (baik yang di kantor, ataupun yang remote).
  • Pantau grup komunitas HelloBeauty di setiap kota (biasa dari subuh sudah mulai aktif grupnya). Saking aktifnya, handphone saya cepat sekali low-bat (berangkat kantor masih sekitar 90 persen, sesampainya di sana sudah tinggal 20 persen biasanya).
  • Berangkat ngantor atau meeting, tergantung jadwal.
  • Pulang kantor atau jadwal meeting terakhir, lalu makan malam dengan istri. Biasanya pulang rumah masih lanjut kerja kalau masih ada yang harus diselesaikan, bantu member yang membutuhkan bantuan, atau apabila ada kendala.
  • Ngobrol lagi sama bayi di perut istri, baca-baca, lalu jam 12 malam biasanya baru bisa tidur.
Bagaimana cara kamu membagi waktu antara kesibukan sebagai Founder dengan keluarga?

Selama tujuh tahun kebersamaan kami, hingga kemudian menikah tahun lalu, istri saya sudah biasa ditinggal kerja atau meeting. Biasanya saya banyak meluangkan waktu mengobrol di pagi hari setelah bangun tidur dan malam hari sebelum tidur. Kalau lagi banyak kerjaan, sering diledekin istri, “Kamu mah badannya doang di rumah, otaknya masih ketinggalan di kantor.”

Sabtu-Minggu biasanya baru lebih banyak waktu sama keluarga. Minggu berangkat ke gereja bareng, ajak orang tua juga walaupun sudah tidak lagi tinggal bersama.

Apa faktor yang pada waktu itu membuat kamu mencetuskan ide untuk mendirikan HelloBeauty?

Sebetulnya mulai terjun di bisnis itu dari sejak masa kuliah, sekitar sepuluh tahun lalu. Dulu awalnya bikin situs daily deals lokal di Bandung, tapi karena tidak fokus dan waktu itu ekosistem startup belum seperti sekarang, jadi bingung mau cari dan belajar sama mentor yang tepat itu di mana.

HelloBeauty sendiri ide awalnya muncul dari masalah yang dialami oleh istri saya saat berniat memesan jasa Make Up Artist. Ia menemukan kendala untuk mencari mana yang sesuai dengan kebutuhan, bujet, dan jadwal.

Saat itu istri saya harus kontak lebih dari dua puluh Make Up Artist satu per satu untuk cari tahu berapa sih harga layanannya, apakah mereka available di jadwal yang istri saya butuhkan.

Para penyedia jasa kecantikan juga memiliki masalah tersendiri, terutama dalam hal mengelola dan mengembangkan layanan atau bisnis jasa kecantikan mereka

Sangat buang waktu dan tidak efisien. Saya kemudian berpikir, saat ini orang belanja, pesan makanan, beli tiket pesawat, pesan hotel, pesan transportasi, semua sudah online. Tapi kenapa jasa kecantikan yang pasarnya besar semacam ini belum ada.

Lalu saya coba keliling mal untuk mencari tahu seberapa besar kebutuhan orang terkait jasa kecantikan dan masalah yang dialami. Saya juga berdiskusi dengan para penyedia jasa kecantikan.

Ternyata di sisi para penyedia jasa kecantikan juga memiliki masalah tersendiri, terutama dalam hal mengelola dan mengembangkan layanan atau bisnis jasa kecantikan mereka. Berdasarkan hasil dari riset pasar sederhana tersebut, saya memutuskan untuk membangun HelloBeauty sebagai solusi.

Apa hambatan dan rintangan yang kamu hadapi agar bisa mengeksekusi ide ini hingga menjadi produk yang benar-benar bisa digunakan user?

Hambatan yang kami temukan adalah mencari model bisnis yang tepat. Karena HelloBeauty bisa dikatakan sebagai yang pertama di Indonesia, jadi masih sedikit benchmark produknya, bahkan di luar negeri sekalipun.

Hampir semua pemain di industri ini masih mengalami kesulitan dalam menentukan bisnis model yang tepat, terutama terkait menangani bypassing issue. Bahkan tidak sedikit startup dari industri ini yang tutup karena gagal menemukan solusi dari hambatan serupa.

Apa kiat yang kamu lakukan untuk menemukan solusi dari masalah tersebut?

Simpel, mengobrol langsung dengan user untuk menggali pasar secara lebih mendalam. Saya dapat masukan ini dari salah satu orang yang saya anggap sebagai mentor saya. Saya ditantang, dikasih PR, dan saya kerjakan.

Selebihnya dibantu dengan data, hasilnya ada di salah satu fitur terbaru HelloBeauty, yaitu Beauty Job Bidding. Sejak awal diluncurkan, ada lebih dari empat puluh persen pengguna HelloBeauty yang lebih suka diberikan rekomendasi pilihan Beauty Artist oleh tim kami, daripada mencari dengan melakukan browsing di situs web kami.

Pengguna lebih suka diberikan rekomendasi pilihan daripada mencari dengan melakukan browsing.

Oleh karena itu, pada pertengahan tahun lalu, kami mencoba validasi sederhana hanya dengan menggunakan Google Form sebagai MVP, dan prosesnya masih sangat manual. Setelah klien mengisi Google Form mengenai kebutuhannya, tim kami mencarikan Beauty Artist yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan, lalu memberikan beberapa pilihan tersebut kepada mereka, baru setelah itu transaksi berjalan.

Hasilnya cukup baik, layanan booking HelloBeauty mengalami peningkatan sebesar 110,87 persen pada bulan tersebut. Setelah kami perbaiki, validasi, perbaiki, validasi, secara terus menerus, sekarang semua prosesnya dijalankan menggunakan sistem yang lebih baik dan sukses berjalan otomatis tanpa bantuan manual dari tim kami lagi.

Model bisnis apa yang sudah dijalani dan juga akan diterapkan ke dalam pengembangan HelloBeauty ke depannya?

Awalnya HelloBeauty menggunakan model on-demand, kurang lebih seperti model Uber sebagai contoh MVP-nya. Di sini pihak klien memesan, lalu beauty artist terdekat yang akan mengambil pesanannya.

Namun, setelah kami tes ke seratus pengguna pertama, ada banyak feedback terkait dengan layanan yang mereka pesan, antara lain profil Beauty Artist tidak dapat diketahui terlebih dulu dan portofolio kecantikan mereka sebelumnya seperti apa. Jadi situasinya seperti membeli kucing dalam karung.

Di sini kami belajar bahwa layanan kecantikan ini sebuah seni, jadi sulit untuk distandardisasi. Keahlian tangan dari masing-masing Beauty Artist pun berbeda seninya.

Karena itu kami pivot menjadi marketplace jasa kecantikan di mana Beauty Artist dapat menampilkan portofolio, menu layanan, daftar biaya, dan informasi lainnya, sehingga klien bisa memilih sesuai dengan bujet dan kriteria yang mereka butuhkan.

Kendala utamanya ada di bypassing issue atau transaksi di luar platform.

Namun dengan model tersebut, kali ini kendalanya ada di revenue model yang kami gunakan waktu itu, yakni dengan penarikan komisi per transaksi. Kendala utamanya ada di bypassing issue atau transaksi di luar platform. Di sini terkadang, harga yang dicantumkan oleh pihak Beauty Artist telah di mark-up terlebih dulu.

Hal tersebut menjadi sebuah tantangan bagi kami. Oleh karenanya, HelloBeauty kini sudah tidak menarik komisi dari transaksi dan setelah berbicara langsung dengan para pengguna, kami memutuskan mengubah revenue model ke dalam biaya abonemen atau subscription model.

Dengan ini, para Beauty Artist kami berlangganan software tool dan support system yang kami sediakan untuk membantu mereka mengelola dan mengembangkan bisnis layanan mereka secara online dan lebih baik lagi.

Terkait dengan langkah scale-up menuju product/market fit, apa saja yang telah diupayakan HelloBeauty?

Kami terus mengedukasi para pengguna, terutama para Beauty Artist untuk bagaimana memaksimalkan HelloBeauty sebagai support system untuk mengelola dan mengembangkan bisnis atau layanan mereka secara online dan lebih baik.

Untuk teknologi sendiri, kami memanfaatkan beberapa ragam fitur ke dalam dashboard akun para Beauty Artist yang berlangganan sebagai member premium, antaranya:

  • In-app chat.   
  • Scheduling tool.
  • Promotion tool.
  • Bidding system.
  • Invoicing system.
  • CRM.
  • Tracking system.

Big data jelas menjadi salah satu yang kami himpun, karena di industri ini masih sangat sedikit data, riset, dan hal-hal terkait lainnya. Kami memiliki visi besar untuk “menciptakan ekosistem yang lebih baik untuk perkembangan industri layanan kecantikan”. Kami berharap bisa berkontribusi positif dan signifikan terhadap industri ini lewat pemanfaatan big data.

Setelah mendapatkan pendanaan di bulan Mei lalu, apa hal yang langsung terbesit di pikiran untuk scale-up HelloBeauty?

Hingga pada saat ini saya merasa kita masih berada dalam tahap product-market fit. Salah satu mentor saya juga menyarankan jangan sampai kita scale too fast. Fokus dulu untuk kasih solusi ke inti permasalahannya, cari formula yang tepat, baru scale-up.

read also

BACA JUGA

Cara mendapatkan product/market fit untuk bisnismu

Industri jasa kecantikan sendiri masih di tahap yang belum dewasa (menurut saya), masih butuh banyak edukasi pasar. Untuk pengembangan dari HelloBeauty sendiri, kita akan segera meluncurkan aplikasi mobile dalam waktu dekat, dan juga akan melebarkan sayap ke layanan kecantikan lainnya di luar make up dan hair styling (yang sebelumnya menjadi fokus utama dari HelloBeauty).

Boleh diceritakan sedikit tentang startup yang kamu dirikan sebelumnya yaitu Into-It?

Boleh banget. Into-it saya bangun bersama dengan Pradana Dyaksa, co-founder saya di HelloBeauty juga. Kami sudah lebih dari sembilan tahun kerja bareng, bikin ini itu bareng, sudah satu visi, saling percaya, kenal kekuatan dan pola kerja masing-masing.

Waktu itu kami tinggal di Ubud, Bali, untuk bangun Into-it, karena pasarnya sesuai dengan yang mau kita lakukan validasi awal. Into-it sendiri merupakan sebuah platform yang mempertemukan aktivitas, ide, dan minat orang-orang yang ada di suatu wilayah atau kota tertentu.

Pada dasarnya Into-it mirip seperti fitur Experiences yang ada di Airbnb. Tapi sayangnya ketika kami bawa ke Jakarta, ada banyak pola pikir skeptis yang menghambat, salah satunya rasa ketidaknyamanan terhadap orang-orang baru yang ditemui oleh seseorang.

Kami memutuskan untuk tidak melanjutkan proyek tersebut. Untuk seberapa jauh pengembangannya, waktu itu kami baru sampai tahap validasi produk.

Sumber: Greenhouse.id

Apa pembelajaran dari pengembangan Into-It yang kamu petik dan kini diimplemetasikan ke HelloBeauty?

Pelajaran terbesar yang kami dapatkan adalah timing dan culture. Sebuah bisnis atau startup masuk ke pasar yang belum siap dengan timing tidak tepat (baik lebih cepat ataupun terlambat) akan sulit sekali untuk bertumbuh dengan baik.

Coba bayangkan Uber, Grab, atau GO-JEK memulai layanannya di 15-20 tahun lalu, di kala masih era industrial, lapangan pekerjaan masih banyak, jalanan belum macet seperti sekarang, infrastruktur juga masih belum seperti sekarang, jelas akan berbeda sekali ceritanya.

Sebuah bisnis atau startup masuk ke pasar yang belum siap dengan timing tidak tepat (baik lebih cepat ataupun terlambat) akan sulit sekali untuk bertumbuh dengan baik.

Mereka masuk di timing yang tepat di mana kurangnya lapangan pekerjaan, kemacetan, dan tuntutan masyarakat yang membutuhkan layanan yang serba instan. Di samping itu infrastruktur yang sudah jauh lebih baik seperti jaringan internet meluas, jelas menjadi faktor timing yang sangat tepat sehingga sebuah produk benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat.

Mengenai culture, hal tersebut berpengaruh terhadap perilaku pengguna di pasar yang hendak kami masuki. Hal ini saya petik pelajaran dari membangun Into-it (dan skeptisisme pasar) beberapa tahun lalu.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan; Sumber gambar: Bridestory)

512
512