Perusahaan Indonesia Telat Sadari Pentingnya Pengelolaan Data
Telsetnews — 11 Jul 2018 14:43

Telset.id, Jakarta – Perusahaan di Indonesia dinilai terlambat menyadari bahwa pengelolaan data penting. Padahal pengelolaan data bisa menjadi salah satu faktor yang mendorong keberhasilan perusahaan dalam berbagai bidang usaha.

Presiden Direktur Teradata Erwin Sukiato mengatakan dibanding negara-negara tetangga, Indonesia terbilang sangat terlambat untuk memanfaatkan layanan pengelolaan data. Bahkan tren pemanfaatan jasa pengelolaan data baru marak dilakukan dalam setahun terakhir.

“Perusahaan disini kira-kira baru menyadari pentingnya data setahun terakhir. Kalau perusahaan di Australia sudah membeli data dari Teradata sejak 22 tahun lalu. Ini yang membedakan perusahaan disana dengan Indonesia,” ujar Erwin dalam acara peluncuran 4D Analytics Teradata di Jakarta, Selasa (10/7/2018).

BACA JUGA

Kesadaran dalam hal pemanfaatan data dinilai menjadi pendorong majunya perusahaan di negeri Kanguru tersebut. Bahkan perusahaan disana bisa lebih efisien dengan meminimalisasi penggunaan sumberdaya mereka dalam operasionalnya.

Kendati agak terlambat dalam memanfaatkan data, namun Erwin mengatakan bank dan Lembaga pemerintah telah melakukan transformasi secara digital untuk meningkatkan layanan dan kinerja mereka. Dia memberikan contoh pergeseran besar layanan keuangan perbankan konvensional ke layanan keuangan digital.

Perkembangan ini dinilai positif karena mendukung inklusi keuangan (financial inclution) masyarakat, mengingat di negara ini jumlah orang yang belum menggunakan layanan bank atau populasi non -nasabah sangat tinggi, terbesar ketiga dunia.

“Survei perbankan Indonesia oleh PricewaterhouseCoopers menunjukkan jumlah orang yang menggunakan layanan cabang bank tradisional, lebih dari 50 persen transaksinya, turun dari 75 persen pada 2015 menjadi 45 persen pada tahun 2017. Ini menunjukkan ada transformasi layanan bank secara digital,” kata dia.

Dalam transformasi ini, bank mengadopsi teknologi informatika kekinian, yakni internet of things (IoT) untuk menghubungkan berbagai perangkat yang diperlukan satu sama lain. Ketika proses itu berlangsung, maka akan berkembang menjadi suatu sistem cerdas (intelligent system) dari satu sistem tertentu.

Erwin melanjutkan, ketika perangkat dan sistem cerdas ini saling berbagi data di komputasi awan alias cloud dan mulai menganalisis, data tersebut dapat mentransformasi bisnis, hidup, dan dunia tempat pemegang perangkat terhubung dengan cara yang tidak terbatas jumlahnya.

“Ketika penggabungan data dari perangkat dan sistem-sistem lainnya mungkin dilakukan, dapat muncul informasi yang mungkin memberikan manfaat penting bagi e-commerce. Namun manfaat itu juga menyebabkan resiko yang dikaitkan dengan pengadopsiannya, walaupun maanfaatnya masih lebih besar daripada kemunhgkinan resikonya,” tukas dia.

512
512