Neurosensum, Membantu Perusahaan Lakukan Riset Pasar dengan Teknologi Neuroscience
Techinasia — 14 Aug 2018 12:00

Founder: Rajiv Lamba, Vivek Thomas
Industri:
 Neuroscience
Status pendanaan:
Tahap awal (seed funding)

  • Mayoritas layanan riset pasar masih bergantung pada survei, dan banyak hal yang sulit diukur dengan sistem ini, Neurosensum melihat teknologi neuroscience sebagai solusinya.
  • Dengan layanan ini kamu bisa melihat respons otak, sampai memantau pergerakan mata dan ekspresi wajah ketika melakukan riset.
  • Tidak hanya menyasar industri skala besar, Neurosensum juga membidik UKM  dengan membuat platform riset khusus yan akan membantu dalam pembuatan kuesioner, distribusi sampai pengolahan menjadi presentasi.

button ulasan startup

Bekerja selama bertahun-tahun di berbagai perusahaan riset, mulai dari Mindshare, Nielsen, hingga Kadence, membuat Rajiv Lamba tahu betul teknologi-teknologi baru yang sedang berkembang di bisnis tersebut. Dan menurut pengamatannya, salah satu teknologi yang banyak dibicarakan selama beberapa tahun terakhir adalah teknologi pemantauan kerja otak alias neuroscience.

“Para ahli di seluruh dunia membicarakan hal tersebut. Di Amerika Serikat, pengembangan teknologi neuroscience bahkan telah dimulai sejak tiga hingga empat tahun yang lalu,” ujar Lamba kepada Tech in Asia Indonesia.

Itulah mengapa Lamba dan rekannya yang juga berpengalaman di bisnis riset, Vivek Thomas, memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan khusus di bidang neuroscience. Mereka pun memberinya nama Neurosensum.

Thomas mulai mendirikan Neurosensum di Singapura pada bulan Juni 2017, namun pada saat itu mereka belum mulai menjual produk mereka. Baru pada bulan Februari 2018 mereka masuk ke pasar Indonesia, menyempurnakan algoritme produk mereka, serta bersiap untuk melakukan penjualan ke beberapa klien. Lamba sendiri baru bergabung secara resmi pada bulan April 2018.

Saat ini, Neurosensum mengklaim telah mempunyai 27 klien yang berasal dari bisnis FMCG, perbankan, e-commerce, hingga telekomunikasi.

Bagaimana sebenarnya Neurosensum bisa membantu aktivitas riset? Mari simak ulasannya berikut ini.

Temukan jawaban jujur dari otak manusia

Neurosensum Tim 1

Kepada Tech in Asia Indonesia, Lamba menjelaskan bahwa mayoritas layanan riset pasar saat ini masih bergantung pada survei. Padahal menurutnya, ada beberapa hal yang sulit untuk diukur dalam aktivitas tersebut.

Contohnya apabila kamu memperlihatkan produk A kepada seseorang, lalu menanyakan apakah mereka menyukainya, maka biasanya mereka akan menjawab bahwa mereka suka. Ketika kamu memperlihatkan Produk B, mereka juga menjawab suka. Lalu mana produk yang lebih mereka suka?

Menurut Lamba, kebanyakan pengambilan keputusan yang diambil manusia justru berasal dari alam bawah sadar (sub-conscious). Untuk mengetahui hal tersebut, kita pun perlu mengetahui bagaimana proses kerja otak saat melakukan survei, membandingkan contoh kemasan produk, atau ketika membandingkan tampilan UI/UX dari sebuah aplikasi mobile.

Itulah mengapa Lamba kemudian melirik teknologi neuroscience. Ia pun membuat solusi yang memungkinkan kamu untuk melihat respons otak dengan sebuah alat yang bernama EEG (electroencephalogram). Selain itu, ia juga memantau pergerakan mata dan ekspresi wajah responden saat melakukan riset.

“Kami juga bisa melakukan simulasi dengan menggunakan VR. Dengan begitu, kamu bisa menempatkan responden di tempat-tempat khusus seperti minimarket, atau situasi berkendara di jalan raya,” jelas Lamba.

Andalkan algoritme yang mereka kembangkan

EEG Neurosky

Contoh alat EEG

Alat EEG sendiri sebenarnya sudah bisa didapat dengan mudah, siapa pun bisa membelinya. Itulah mengapa di luar Indonesia juga telah ada beberapa perusahaan yang mengembangkan solusi serupa, seperti BitBrain, iMotions, dan NeuroSpire.

Namun menurut Lamba, yang terpenting dari solusi mereka bukanlah alat yang mereka gunakan, namun algoritme yang telah mereka uji coba sejak enam bulan terakhir.

“Alat tersebut sebenarnya hanya menerjemahkan gelombang otak menjadi alfa, beta, gama, dan seterusnya. Namun untuk mengerti artinya, kamu harus mempunyai algoritme yang bisa menerjemahkan gelombang-gelombang tersebut,” jelas Lamba.

Itulah mengapa Neurosensum perlu melakukan penelitian selama beberapa bulan sebelum menjual produk mereka, demi memastikan bahwa algoritme yang mereka gunakan benar-benar bisa berjalan dengan baik.

Siap luncurkan produk riset khusus untuk UKM

Neurosensum | Screenshot

Sadar bahwa tidak semua perusahaan bisa memanfaatkan teknologi neuroscience yang mereka tawarkan, Lamba pun mengaku tengah menyiapkan sebuah platform riset khusus untuk para pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Dengan platform baru tersebut, kamu bisa menentukan hal tertentu yang akan kamu riset, dan Neurosensum akan membantu kamu mulai dari pembuatan kuesioner hingga menjadi presentasi.

Untuk menggunakan platform tersebut, kamu hanya perlu menentukan hal tertentu yang ingin kamu riset. Sebagai contoh, kamu ingin menjual produk baru, dan ingin tahu apakah masyarakat akan menyukainya atau tidak. Setelah menentukan hal tersebut, platform Neurosensum akan memberikan daftar pertanyaan yang bisa kamu berikan kepada responden.

“Apabila kamu telah mempunyai daftar email pengguna yang ingin kamu jadikan responden, maka kami akan langsung mengirimkan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada mereka secara gratis. Kamu hanya perlu membayar apabila kamu menginginkan bantuan kami dalam mengumpulkan responden,” jelas Lamba.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut nantinya akan diolah secara otomatis oleh Neurosensum, dan kamu bisa langsung melihat hasilnya dalam bentuk presentasi yang menarik. Menurut Lamba, platform ini rencananya akan ia luncurkan pada tahun 2018 ini.

read also

BACA JUGA

Neurosensum juga salah satu peserta akselerator Digitaraya

Fokus hadirkan layanan dengan harga yang terjangkau

Untuk tahun 2018 ini, Neurosensum menargetkan untuk bisa mempunyai lima puluh klien. Mereka pun berniat untuk melakukan ekspansi ke Inggris pada bulan September 2018, dan ke negara Asia Tenggara selain Indonesia pada tahun 2019. Dan untuk memuluskan hal tersebut, mereka pun berniat untuk mencari pendanaan lanjutan sebelum akhir tahun ini.

Sebelumnya, mereka telah mendapatkan pendanaan tahap awal (seed funding) dari Alpha JWC Ventures dan beberapa angel investor pada pertengahan tahun 2018 ini.

Saat ini, mereka telah mempunyai sekitar 38 karyawan. Mayoritasnya merupakan konsultan yang selalu berhubungan erat dengan klien, serta developer. Menurut Lamba, tantangan terbesar mereka saat ini adalah bagaimana mengedukasi pengguna tentang manfaat dari teknologi baru tersebut.

“Untuk itu, kami pun berusaha memperbanyak studi kasus bagaimana solusi yang kami buat bisa bermanfaat di berbagai jenis riset pasar. Kami pun fokus menghadirkan layanan yang berkualitas, namun dengan harga yang terjangkau,” pungkas Lamba.

(Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

512
512