Cara Menetapkan dan Menerapkan Strategi yang Baik dalam Perusahaan
Techinasia — 7 Jan 2019 11:00

Kamu mungkin pernah mendengar nasihat karier yang menyebutkan bahwa kamu perlu

Apa pula maksudnya?

Saya dulu berpikir bahwa “menerapkan strategi” adalah:

  • Menetapkan target dan pengukurannya.
  • Berpikir kreatif dan menghasilkan ide-ide baru.
  • Bekerja lebih keras dan memotivasi orang-orang lain untuk berusaha lebih.
  • Menulis artikel panjang.
  • Membangun kerangka kerja.
  • Menggambar grafik di papan tulis.

Hasilnya, saya coba untuk melakukan semua hal di atas sesering mungkin. Saya mencetuskan ide-ide, menulis dokumen-dokumen panjang, serta mempelajari pengukuran dan indikator kinerja. Satu per satu poin dalam daftar telah saya lakukan. Saya berhasil mengatur dan melaksanakan strategi dengan baik, bukan?

Ternyata, semua yang saya lakukan tak ubahnya bagai memetik gitar, lalu menganggap diri telah menggubah lagu. Inti masalah yang saya hadapi adalah:

Saya sendiri kurang paham apa itu strategi. Saya pikir “menerapkan strategi” hanya sebatas terlibat dalam diskusi penting.

Jika kamu merasakan hal yang sama, maka artikel ini perlu kamu baca.

Apa itu strategi?

Pada dasarnya, strategi adalah sederet aktivitas yang didesain untuk mencapai suatu target. Layaknya sebuah rute yang dibuat untuk pergi dari titik A ke titik B.

Pertanyaan yang lebih menarik justru, “Apa yang membuat strategi jadi baik?” Dan untuk menjawab pertanyaan itu, saya setuju dengan definisi yang dibuat oleh Richard Rumelt:

“Strategi yang baik adalah sederet aktivitas yang kredibel, saling berkaitan, dan fokus untuk mengatasi tantangan-tantangan terbesar dalam mencapai target tertentu.”

Mari kita telaah satu per satu:

  • Mencapai target tertentu: harus jelas sukses seperti apa yang ingin diraih.
  • Sederet aktivitas: perlu ada rencana konkret.
  • Kredibel dan saling berkaitan: rencana yang dibuat harus masuk akal dan dapat mencapai target. Tak boleh ada elemen-elemen dalam rencana yang bertentangan.
  • Fokus untuk mengatasi tantangan-tantangan terbesar: perlu melakukan identifikasi yang jelas terhadap masalah-masalah terbesar untuk diatasi. Rencana yang dibuat harus memfokuskan sumber daya untuk mengatasi tantangan tersebut.

Berdasarkan defisini itu, mari kita tinjau ulang definisi saya sebelumnya atas “menerapkan strategi” sebelumnya:

  • Menetapkan target dan pengukurannya: elemen ini adalah bagian dari strategi, tapi tidak lengkap tanpa rencana kredibel untuk mencapainya.
  • Berpikir kreatif untuk menciptakan fitur-fitur baru: jika kamu sendiri tak tahu masalah apa yang ingin diatasi, melakukan diskusi berulang kali untuk menciptakan sederet solusi pun tak akan bermanfaat.
  • Bekerja lebih keras dan memotivasi orang-orang untuk berusaha lebih: bekerja sepenuh hati adalah hal terpuji, tapi jangan menyamankan “pergerakan” dengan “kemajuan”.
  • Menulis artikel panjang: hal ini bisa termasuk dalam strategi, tapi tergantung kontennya. Strategi yang baik biasanya simpel.
  • Menciptakan kerangka kerja: kerangka dapat membantu menjelaskan konsep, tapi hal ini bukanlah rencana. Memiliki kerangka kerja yang baik bisa diibaratkan mempunyai sebuah peta, kamu masih harus menentukan jalur yang ingin ditempuh.
  • Menggambar grafik di papan tulis: aktivitas ini mungkin tampak hebat, tapi bisa jadi hanyalah aktivitas sia-sia. Terlalu banyak jargon dan kata-kata berbunga tanpa esensi.

Kamu mungkin berkata, “OK, definisi yang bagus.” Tapi pertanyaan besarnya masih belum terjawab. Apa yang perlu saya lakukan untuk mengatur strategi?

Inilah kuncinya.

1. Samakan persepsi tentang seperti apa kesuksesan yang hendak diraih

Hal ini mungkin terdengar mudah, tapi sulit dilakukan. Sebagai tes awal coba lakukan hal berikut: bayangkan tim kamu meraih kesuksesan besar dalam waktu tiga tahun. Kesuksesan seperti apa yang kamu bayangkan? Tuliskan pada sebuah kertas.

Sekarang, coba tanyakan pertanyaan sama pada rekan kerja setim di sebelahmu. Saat kamu membandingkan jawaban masing-masing, apakah kedua jawaban sama?

Jawaban kamu dan temanmu seharusnya sama, karena kalian bekerja dalam satu tim. Tapi ternyata, ada banyak alasan mengapa keduanya bisa jadi berbeda.

Kamu mungkin peduli terhadap berbagai pekerjaan dan mengikuti progres pencapaian sejumlah target. Mana yang lebih penting? Apa yang terjadi bila satu target bertentangan dengan yang lainnya? Bagaimana kesuksesan ini berkaitan dengan keberhasilan perusahaan tempat kamu bekerja?

Bila jawaban tiap anggota dalam tim kamu berbeda, maka kamu masalah yang perlu diselesaikan.

2. Memahami masalah yang ingin kamu atasi dan untuk siapa

Bayangkan kamu tengah berusaha untuk “mengubah masa depan transportasi.” Apa yang perlu kamu lakukan?

Jika insting kamu mulai membayangkan ide-ide gila—mobil terbang, armada Uber yang dilengkapi kursi mahal dari Eames, Hyperloop—tenangkan dirimu. Kamu ingin tahu masalah utama transportasi saat ini? Kemacetan, ongkos yang mahal, keamanan, polusi, kebosanan selama perjalanan, dan lain-lain.

read also

BACA JUGA

Tip menjadi problem solver ala Jepang

Hal paling sulit dari sederet masalah tersebut adalah mengetahui mana yang lebih utama dibanding lainnya. Mana yang sangat berpengaruh, mana yang tak penting, dan bagi siapa masalah ini berarti?

Sederet pertanyaan itu membuat kamu perlu memahami:

  • Ekosistem di sekitar masalah. Kemungkinan besar kamu bukanlah orang pertama yang mencoba mengatasi masalah tersebut. Bagaimana pendekatan yang pernah diambil? Apa yang sudah dilakukan dengan baik dan dengan buruk? Memahami permasalahan juga berarti mengetehaui pesaingmu dan sistem yang berlaku di seputar masalah tersebut.Lakukan riset—analisis kompetitor, pekerjaan yang masih perlu dilakukan, segmentasi pengguna, pengukuran pasar, dan lain-lain. Aktivitas ini akan membantu kamu lebih percaya diri dengan ide-ide di masa depan, serta menciptakan kerangka untuk mengeveluasi ide-ide tersebut nanti.
  • Masalah apa yang cocok dengan kekuatan dan kelemahanmu. Kamu tidak dapat mengatasi semua masalah dengan sama baik, jadi tantangan apa yang dapat kamu selesaikan lebih bagus dibanding yang lain? Apa saja kekuatan dan kelemahan tim kamu?

3. Prioritas dan fokus

Menetapkan prioritas sangat sulit, karena sebagian besar orang enggan berkata “tidak”. Tapi waktu, energi, dan konsentrasi punya batasan. Ingat bagaimana strategi bagus adalah yang terfokus?

Fokus adalah keunggulan strategis yang memungkinkan kamu bergerak lebih cepat dalam mengerjakan hal terpenting. Itulah mengapa startup kecil dengan karyawan berjumlah belasan punya kesempatang menang melawan perusahaan besar dengan karyawan berjumlah ratusan atau bahkan ribuan. Bila rencana kamu melibatkan terlalu banyak proyek untuk dilakukan, kemungkinan kamu punya keunggulan kompetitif akan makin kecil.

read also

BACA JUGA

10 kebiasaan buruk yang bisa merusak potensi startup

Jika kamu tak mampu menetapkan prioritas, putar haluan dan lakukan riset dengan lebih baik untuk memahami masalah. Pertanyaan yang perlu dilontarkan bukanlah, “Apa yang bisa lakukan lagi untuk berhasil?” atau “Bagaimana memastikan semua proyek kita tak ada yang gagal?”, tapi “Apa masalah terpenting pertama, kedua, dan ketiga yang perlu kita atasi? Bagaimana memastikan solusi kita akan berjalan dengan gemilang?”

Saya berkata pada tim momen di mana suatu diskusi sudah mengarah ke “apa kita perlu merilis produk biasa ini, atau perlukah kita mengerjakannya sedikit lagi agar jadi lebih baik?” adalah saat di mana semua pekerjaan yang telah dilakukan gagal. Tim telah gagal menajamkan fokus berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan lalu. Sebenarnya hanya ada dua hal yang perlu ditetapkan: apakah hal ini perlu (sehingga bisa membuat produk jadi hebat) atau tak perlu (yang bila tetap dilakukan pun tak akan berguna).

Bila kamu tertarik untuk memperdalam wawasan tentang topik ini, saya merekomendasikan buku Good Strategy, Bad Strategy yang ditulis oleh Richard Rumelt. Ada banyak contoh yang bisa kamu baca dari dunia militer dan bisnis. Selamat mengatur strategi!

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Iqbal Kurniawan sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

512
512