Tip Menyajikan Kisah tentang Perusahaan dengan Memanfaatkan Metrik
Techinasia — 6 Feb 2019 10:00

Sangatlah mudah memasang metrik terkait penghasilan pada dashboard perusahaan, hanya untuk melupakan alasan di balik pemasangannya kelak. Menceritakan kisah inspiratif juga gampang, tapi mempertahankan semangat yang muncul setelah mendengar cerita tersebut bukanlah hal enteng.

Banyak perusahaan telah mengetahui pentingnya merumuskan metrik, dan sederet perusahaan lainnya menganggap punya cerita yang kuat adalah hal penting. Bagi manajer produk, keahlian menceritakan kisah termasuk keterampilan penting yang mesti dimiliki.

Apa sebenarnya yang membuat suatu metrik dan kisah menjadi menarik? Kami menemukan bahwa metrik yang bagus juga akan menghasilkan kisah menarik, dan kisah menarik dipandu oleh metrik itu sendiri.

Mengombinasikan kisah dengan metrik

Suatu metrik ibarat sebuah formula yang mengisahkan tuas pada alat—menceritakan kisah bagaimana kamu akan mencapai tujuan akhir.

Contoh sederhana formula cerita

Kisah kamu dapat bermula dari akuisisi pengguna dan diakhiri dengan pendapatan. Terdapat beberapa cara formula ini bisa ditulis, sehingga mampu menceritakan tuas dan tolok ukur yang kamu tetapkan dalam perjalananmu meraih pendapatan.

Jika fokus utama kamu bukan tentang meminimalkan Funnel Dropout (calon pelanggan yang pergi di tengah-tengah proses pembelian), kamu dapat dengan mudah menyingkat alur cerita dengan meninggalkan Funnel Completion (transaksi atas penjualan) dan Funnel Starts (pendekatan pada calon pelanggan). Cukup melihat Funnel Completion dibagi Active Users (pelanggan aktif).

Bila kamu tak nyaman menggunakan rumus-rumus untuk membuat kisah, Proses penetapan metrik dengan metode Goal-Signal dapat membantumu dalam menjelaskan dari mana metrik berasal, berdasarkan tujuan dan perilaku pengguna.

Pada beberapa kasus, pendekatan memakai rumus mungkin bukan penjabaran paling alami dari narasi kamu. Untuk proses design sprint di GoGoVan, kami menggunakan kerangka HEART dan proses Goal-Signal agar semua orang tahu bagaimana kami menerjemahkan nilai-nilai tambah bagi para pengguna ke metrik untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Meskipun sering kali proses yang kami gunakan merupakan hasil kombinasi dengan HEART, konsep ini dapat juga diterapkan dalam kerangka metrik yang kamu pilih. Tujuan (Goal) dan petunjuk berdasarkan respons pengguna (Signal) bisa memunculkan aspek manusia dan cerita mereka di balik angka.

“Kisah-kisah yang hebat menceritakan proses dalam perjalanan, bukan hanya tentang akhir bahagia selamanya.”

Jika kamu kesulitan menyusun struktur cerita, pertimbangkan untuk mengambil potongan kisah dari buku favorit kamu. Metode-metode yang terbukti sukses diterapkan pada novel juga sama efektifnya saat digunakan dalam pitching dan presentasi. Dalam product storytelling, beberapa struktur yang bekerja baik adalah narasi yang linier, terbalik, dan epik.

Terkadang, suatu kisah tercipta dengan mudah. Kamu menyusun sejumlah anekdot, mendeskripsikan visi yang kuat, dan semua orang merasa terinspirasi ketika meninggalkan ruang rapat. Namun, saat tim terus berjalan, kamu mendapati bahwa cerita tersebut tidak lagi diminati, atau anggota tim yang dulunya terinspirasi kini tak bersemangat.

Narasi tentang produk terbaik tidak hanya menyampaikan hasil saat ini dan hasil akhir, tapi juga menunjukkan jalan menuju ke hasil tersebut. Secara keseluruhan, kisah ini adalah satu rencana menarik yang akan dieksekusi dan menjadi acuan tim.

Kisah ini adalah metrik kamu. Tanda-tanda kemajuan merupakan hasil utama yang menjadi lawan dari metrik itu sendiri.

Ketika tanda-tanda ini ditetapkan, mereka memotivasi inisiatif besar berikutnya. Suatu maraton akan sulit untuk dilanjutkan tanpa keberadaan rute yang jelas, dan lebih sulit lagi untuk bertahan ketika tidak ada kemajuan untuk diukur.

Penyebarluasan

Sebuah kisah tanpa karakter belum layak disebut cerita, dan suatu kisah produk tanpa ada peminat menunjukkan ketiadaan daya tarik. Saat manajer produk membuat cerita, ia bukanlah bintang pertunjukannya. Kamu membutuhkan seluruh tim pengembangan produk, pemangku kepentingan bisnis, dan semua peran lain untuk berpartisipasi dalam membangun cerita.

Kesalahan yang umum, entah dalam mempromosikan produk, atau sesederhana saat menyampaikan presentasi, adalah melupakan audiens.

Nilai dari suatu kisah bersifat relatif di mata audiens, dan manajer produk harus memahami hal ini. Sebagus apa pun cerita yang kamu buat, harus diadaptasikan agar melekat di benak berbagai pendengar.

Ada beberapa cara untuk mencari tahu di bagian mana cerita kamu perlu diperbaharui. Salah satu cara adalah dengan mengamati reaksi audiens ketika kamu berbicara dan mengetahui kapan mereka terlihat tidak tertarik.

read also

BACA JUGA

Contoh praktis membangun MVP yang sukses: buat berdasarkan insight

Alternatif lain adalah melakukan tes dengan individu-individu dari beragam aspek pemangku kepentingan berbeda-beda. Jika kamu punya waktu, selami lebih dalam tentang bagaimana latar belakang memengaruhi cara mereka berpikir.

Beradaptasi bukan berarti menulis ulang cerita. Kisah itu sendiri dan inti dari yang kamu ingin sampaikan haruslah konsisten.

CEO Linkedin Jeff Weiner pernah berbagi pendapatnya:

Seorang teman saya pernah mengutip perkataan David Gergen, perihal pengulangan,”Jika kamu ingin pendapat kamu melekat di benak pendengar, terutama pada audiens yang lebih luas, kamu perlu mengulang-ulang terus pendapat tersebut sampai kamu sendiri merasa bosan mendengarnya. Hanya dengan begitu, orang-orang akan meresapi apa yang kamu katakan.”

Jadi, bagaimana mengetahui bahwa kamu telah menyusun kisah yang efektif dan berhasil menyebarluaskannya?

  • Banyak orang memberikan alasan yang sama mengapa suatu metrik digunakan.
  • Tanyakan kepada orang-orang tentang bagaimana respons terhadap produk kamu, dan mereka bisa memberikan jawaban yang jelas dan terukur.
  • Orang-orang yang terlibat ingat dengan jelas apa yang kamu promosikan, bahkan setelah sekian lama kamu bagikan.
  • Orang-orang mendiskusikan produk kamu dengan memasukkan slogan narasi yang kamu bangun.
  • Motivasi dan moral tinggi tercipta di dalam tim.
  • Kamu bukan satu-satunya orang yang menyebarkan kisah tersebut.

(Artikel ini pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris. Isi di dalamnya telah diterjemahkan dan dimodifikasi oleh Fairuz Rana Ulfah sesuai dengan standar editorial Tech in Asia Indonesia. Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

512
512